Yang Buta Yang Lebih Melihat

Dalam kisah petualanganku kali ini dimulai saat aku yang baru saja pulih dari sakit, tiba-tiba mendapatkan panggilan tawaran kerja oleh salah satu Perusahaan di surabaya Jawa timur.
Setelah memikirkan tawaran tersebut dalam beberapa hari semenjak mendapat telpon dari bagian personalia diperusahaan tersebut, aku pun izin kepada kedua orang tua untuk memutuskan berangkat ambil kesempatan ini.
Lalu aku berangkat menggunakan Transportasi Bus langsung tujuan dari Bandar Lampung ke Surabaya yang ditempuh saat itu kurang lebih 26 jam perjalanan kalau lancar.
Alhamdulillah, setelah dari sore hari ke sore hari berikutnya aku pun tiba dengan selamat dikota surabaya, tujuanku langsung menuju alamat Mess Perkumpulan dari kampusku yang berada dikota tersebut untuk izin menumpang tinggal sebelum menghadap ke perusahaan yang aku tuju.
Setelah istirahat semalam, keesokan harinya aku pun menghadap ke kantor yang kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku di mess.
Setelah semua proses wawancara , kesepakatan kerja dan sebagainya sebagai formalitas sebuah lamaran, akhirnya aku pun diterima bekerja disana. Namun mereka bilang aku masih harus menunggu sekitar 1 minggu lagi baru bisa bergabung ketempat kerjaku dikarenakan orang yang mau aku gantikan posisinya baru habis kontrak seminggu lagi, dan aku pun menyetujuinya.
Maka sambil menunggu aku masuk kerja, aku pun tetap tinggal di mess surabaya dan membantu kegiatan kawan-kawan senior junior kampusku yang lagi standby tinggal disana.
Aku lebih memilih tinggal dan menunggu daripada balik lagi ke bandar lampung yang lumayan biaya ongkosnya dan lelahnya perjalanannya yang jadi pertimbangan.
Hingga disuatu hari, saat itu pagi hari aku sedang tertidur malas-malasan disebuah kamar dimess, dari ruang itu memang aku mendengar sayup-sayup suara seniorku yang sedang menerima tamu dan saling berbicara, tidak lama kudengar suara rintihan seniorku, aku pun mulai ingin tau ada apa, dan ku intip mereka yang sedang berada diruang tamu, aku lihat seorang Berpakaian seperti seorang Kyai dan anaknya sedang memegang punggung seniorku yang sedang duduk bersila membelakanginya dan sesekali meringis kesakitan saat tangan sang kyai ditempelkan.
Lalu kebetulan juniorku sebut saja namanya Afan, dia berjalan dari ruang tamu itu hendak ke belakang. Aku pun bertanya kepadanya; "fan, itu sedang ada acara apaan, pijet kah?.
"Huss, itu bukan tukang pijet bang, itu guruku dari probolinggo yang aku undang datang kesini untuk ngobatin senior itu yang katanya sakit kena Santet".
"Oh gitu kirain tukang pijet soalnya sampai meringis begitu". Jawabku lagi.
Aku lalu kembali mengintip kegiatan diruang tamu tapi tidak sampai lama karna tidak ada yang menarik menurutku hanya aktivitas pijat yang aku lihat, kemudian aku pun kembali tiduran hingga benar2 tertidur dan baru terbangun saat hari sudah mau sore, lalu aku lihat tidak ada siapa2 lagi mungkin tamu tadi sudah balik, hanya senior yang tadi dipijat sedang tertidur.
Tidak lama afan juniorku datang dari luar rumah,
"Darimana fan? Aku bertanya kepadanya.
"Itu mas abis ngantar guruku tadi balik sampe terminal purabaya". Jawabnya.
"Oh iya mas, aku tadi kug dipeseni sama guruku sepertinya buat sampeyan gitu". Katanya kembali.
"Pesen buatku gimana fan? Aku mulai bingung.
"Guruku pesen katanya nanti temanmu yang tadi ngintip dan sedang tidur dikamar itu kalau bisa sebelum berangkat kerja suruh maen keprobolinggo ya, begitu katanya, dan yg tidur dan ngintip kan cuma sampeyan" kata afan yang juga seperti gak yakin.
"Lah emang gurumu tadi lihat aku kah, kug tau aku tidur? Aku pun heran.
"Itulah mas aku juga gak ngerti kalau itu, beliau itu Buta matanya tapi memang lebih tajam penglihatannya daripada mata kita". Afan berkata.
Singkat cerita hari berlalu sejak pesannya kawanku dari gurunya, aku masih blum menghiraukannya untuk memenuhi permintaannya, karna masih banyak pertimbangan yang aku pikirkan untuk melakukannya.
hingga pada suatu hari itu, aku seperti orang yang bingung dan terus mengingat wajah dan pesan gurunya kawan tersebut. Lalu aku pun bertanya alamatnya kepada afan.
"Lah mas mau kesana kah?" Tanyanya.
"Gak fan cuma nanya saja, sapatau nanti ada waktu kesana" jawabku.
Sehari berlalu lagi sejak aku bertanya alamat tersebut, dan hari itu keadaan mess sepi, semua banyak pada keluar pergi dengan urusan masing2. Hanya tersisa 2 orang saja yang tinggal.
Aku pun yang tiba2 sangat penat lalu jalan keluar untuk niat refresing.
Dari messku aku berniat naik bus mau ke mall, tapi tiba2 begitu dalam bus dan melewati beberapa mall aku diam saja tidak berkata stop, hingga akhirnya aku sampai ditujuan akhir bus di terminal purabaya.
Lagi2 seperti orang yang bingung rasanya bisa sampai terminal, dan dipikiranku terus teringat wajah sang kyai.dan pesannya untuk main ke rumahnya, lalu sadar tidak sadar aku makin. memasuki terminal dan didalam aku melihat tulisan dibus jurusan probolinggo, dan lagi2 aku bergerak untuk naik didalamnya dengan heran.
Akhirnya bus berjalan dan aku pun sampai diterminal probolinggo, disini aku mulai agak sadar  dan yakin untuk niat bertemu sang kyai tersebut karna diriku kini sudah berada dikotanya. Dengan bismillah dan ngebatin dengan salam kepada sang kyai dan aku bilang dalam batinku "aku datang pak kyai".
Lalu aku yang baru pertama kali ke kota itu agak bingung dengan kendaraan apa menuju alamat sang kyai yg aku sudah ingat sebelumnya dari afan.
Lalu aku melihat sebuah becak diterminal dan langsung saja bertanya kepadanya.
Alhamdulillah ternyata sekali tanya tukang becaknya sudah paham ngerti alamat sang kyai dan bersedia mengantarnya. Saat itu udara lumayan dingin disana, untung aku kalau keluar selalu pake jaket.
Akhirnya aku pun sampai dirumah sang kyai, kurang lebihnya 1,5km dari terminal jaraknya.
Pak kyai dan anak laki2nya yg berumur sekitar 8 tahun yang kemarin juga ikut ke surabaya aku lihat sedang berada di teras rumahnya.
Aku pun mengucap salam dan dibalasnya, lalu dia berkata "alhamdulillah akhirnya sampai juga kesini nak eko".
Kaget juga aku kug kyai ini tahu namaku, tapi aku berusaha berpikir logis mungkin afan yang kemarin kasih tau namaku kepadanya.
Setelah salam aku pun di persilahkan masuk setelah sebelumnya beliau duluan masuk dituntun oleh anaknya karna beliau terlihat Tunanetra.
Ruang tamu sederhana hanya ada tikar karpet disana untuk kami duduk.
Tidak lama setelah duduk aku kembali tiba2 teringat dan bingung dalam batinku "walaupun si afan kasih tau namaku, terus darimana pak kyai ini tahu kalau yang datang adalah aku kan dia buta?.
Sepertinya Sang kyai membaca batinku dan berkata" sudah tidak usah bingung kamu ko, bapak yang memintamu datang kesini bukan afan atau lainnya!".
"Bapak memanglah buta tapi bapak menerima keadaan ini dan lebih senang begini lebih aman dari ujian2 yang biasa eko lihat dijalanan, lihat pakaian kaum hawa yang menggoda dan lihat apapun yang menjadi ujian keburukan yang harusnya bisa dihindari".
Begitu sang kyai berkata lalu senyum-senyum.
Lalu setelah meminta aku menikmati hidangan minum dan kue yang disediakan, pak kyai tiba2 berkata: "oh iya kalau tidak keberatan dan ikhlas nih nak eko, bapak boleh kah minta sesuatu kepadamu?"
"Apakah permintaan itu pak, inshaa Allah mudah2an saya bisa bantu".jawabku.
"Bapak suka dengan jaketmu, bolehkah itu buat bapak? Nanti bapak kasih tukar dengan jaket lainnya" begitulah ujar sang kyai.
"Oh boleh pak" aku pun melepas jaketku walau aku sempat ngebatin  bingung ini kyai buta beneran atau tidak ya, kug tahu aku pake jaket.
Dan pak kyai menyuruh anaknya kedalam rumah untuk mengambil sesuatu, tidak lama dia kembali membawa sebuah jaket juga dan bagus menurutku.
Setelah pak kyai menerima jaket dariku yang langsung dia pakai di tubuhnya dan ternyata pas ukurannya, lalu dia memberikan jaket kepadaku sesuai janjinya. "Ini jaket bapak dikasih oleh seorang Panglima tinggi tentara yang berasal daerah malang", kini bapak serahkan kepadamu untuk dipakai ya, mudah2an dapat menghangatkan dari cuaca buruk dilautan.
Lalu setelah itu kami pun mulai banyak bicara saling berdiskusi terutama tentang nasehat kebaikanNya.
Dan sang kyai rupanya tahu aku mempunyai guru di lampung yang katanya; "wangimu sudah hampir sama dengan gurumu disana, mudah2an kelak kamu yang akan menggantikan perjuangannya".
Aku pun menawarkan untuk menelpon guruku agar mereka bisa komunikasi walau pak kyai bilang tidak usah telpon, ini aku lagi bicara kepadanya.
Namun aku tetap menelpon guruku dan setelah tersambung aku bicara bahwa sedang bersilaturahmi dirumah kyai di probolinggo,
Guruku berkata; "alhamdulillah kamu sudah bertemu dengannya, mintalah ijazah darinya ya".
Lalu setelah itu aku berikan telpon kepada sang kyai dan mereka pun berkomunikasi akrab seperti sudah saling kenal sebelumnya.
Sesuai pesan guruku aku berniat meminta sesuatu kepada kyai itu; tapi nampaknya kyai itu sudah tahu dahulu dan bilang " bapak tidak punya apa2 seperti ijazah sekolahan buatmu, bapak cuma pesankan kepadamu untuk jagalah Wudhu jangan pernah lepaskan untuk berwudhu, itu sudah cukup buatmu". Aku pun menerima dengan ikhlas  Inshaa Allah untuk melaksanakan nasehat wejangan ijazah ala kyai tersebut.
Aku pun menginap semalam dirumahnya sebelum kembali ke surabaya untuk bekerja. Saat santap makan malam kami kembali mengobrol dan beliau bercerita bahwa dirinya sudah Buta dari kecil tapi sebenarnya bisa diobati kata dokter namun beliau menolaknya karna lebih nyaman dengan keadaan begitu untuk beribadah, "Yang Buta itu bukan berarti tidak melihat, karna Mata Hati kita tidaklah Buta seperti mata lahir kita, dengan begini justru aku dapat melihat dengan baik yang seharusnya dilihat mata lahir".begitulah katanya.
Sebelum pulang keesokkan harinya kembali beliau mengingatkan wejangannya dan meminta sesuatu kembali "eko nanti kalau kamu sudah bekerja dan ada rezki tolong belikan bapak pakaian salat yang lengkap ya warna putih dan hati2 ujian kerjanya yang tenang, yang merunduk seperti padi".
Aku jawab " inshaa Allah pak kyai.
Singkat cerita aku pun balik ke surabaya dan 2 hari setelahnya aku berangkat masuk kerja, masya Allah ujian2 dan kesibukan banyak aku temui dalam bekerjaku (Inshaa Allah akan aku ceritakan pada cerpen selanjutnya kalau banyak teringat), aku jadi teringat sesuai apa2 yang pernah pak kyai pesankan, alhamdulillah atas nasehatnya yang aku lakukan semua bisa aku atasin satu persatu.
Hingga waktu berlalu dan ujian waktu kesibukan yang datang kepadaku hingga hari ini aku belum sempat bersilaturahmi kembali kepadanya dan belum membelikan apa yang jadi permintaannya, hanya menjalani wejangan wudhu saja yang aku sudah rasakan manfaatnya dalam ketenangan menghadapi ujian2 saat bekerja.
Demikianlah kisahku berjumpa dengan hambaNya yang Buta mata lahirnya tapi lebih bisa melihat daripada Mata lahirku. Mudah2an dapat menjadi sebuah pelajaran untuk diri ini yang dibekali kesempurnaan panca indra untuk lebih teliti untuk meraih kebaikanNya.
Tamat
Eko yudo heriyanto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manfaat Tebu Hitam