Hikmah dari Kegagalan

Baru saja aku lulus dari kuliah sekitar 3 bulan saat itu, lalu Ibuku menyuruhku untuk coba mendaftar ikut test Tentara Perwira Karir, yang kebetulan saat itu lagi buka pendaftaran,
walau sebenarnya aku setengah hati untuk benar2 mengiyakan tapi akhirnya tetaplah aku coba untuk ikuti saran dari Ibu (pikirku untuk nambah aktivitasku saat itu yang masih menganggur). Dan ketika aku tanya kepada ayahku tentang rencanaku untuk mengikuti test tersebut, beliau cuma jawab; "yaudah ikut saja sana kalau kamu memang minat". (Sepertinya ayahku pun seperti kurang mendukung untuk rencanaku itu).

Walaupun aku lahir di kalangan militer, namun aku sama sekali tidak punya cita2 sedikitpun untuk mengikuti jejak ayahku sebagai abdi negara tersebut, selain menurutku Hasil keringatnya Tidak sesuai dengan latihannya dan untuk keluarganya,
Dan juga karna sudah dari kecil aku sering melihat kerasnya latihan dan susahnya kehidupan mereka dan keluarganya jadi agak menjadi sebuah trauma tersendiri dalam pikiranku. (Kalau kalian anak Kolong pasti mengerti apa yang aku rasakan itu, walau banyak juga anak Kolong yang mengikuti jejak orang tuanya).

Maka proses demi proses seleksi pun aku ikuti, mulai dari dokumen dan lainnya, dan alhamdulillah aku terus lolos lanjut ke tahap2 berikutnya, padahal aku mengikutinya dengan santai sekali tanpa berusaha maksimal dalam setiap pelaksanaannya. Dari sekitar 300an pelamar diawal pendaftaran kini jumlahnya terus menyusut hingga puluhan saja.
Memang ayahku terkadang terlihat hadir diantara para Penguji disaat waktu2 test tersebut, mungkin untuk sekedar melihat kemampuanku saja sampai dimana (ayahku itu sering meremehkan kemampuan fisikku karna aku memang orangnya saat itu sangat malas kalau disuruhnya terutama olahraga).

Banyak aku mendengar dari para pendaftar itu omongan miring tentangku yang berkata aku lolos terus karna faktor orang tuanya, padahal nyatanya aku mengikuti sesuai aturan yang ada cuma tidak ingin maksimal berlebihan dalam nilai setiap test yang aku lakukan karna aku tahu hitungan2 batasan minimal dari setiap penilaian dari masing2 test tersebut, jadi istilahnya aku mainnya di titik aman minimal saja tidak berusaha berlebihan (contohnya; Dalam test Berlari keliling lapangan sepakbola, Hitungan minimal lulusnya harus 7X putaran dalam 10 menit maka aku ikuti angka tersebut).
Malahan aku selama semua proses itu Jarang sekali berkomunikasi soal yang aku lakukan bersama ayahku dirumah, yang ada malahan ibuku yang kerap bertanya; "bagaimana testnya?.

Dalam setiap proses test tersebut Kurang lebihnya pendidikan yang aku dapat dari kampusku dulu yg juga menerapkan sistem disiplin tinggi itulah yang jadi modal semangat mental kekuatanku saat melakukan setiap test dengan tenang karna sudah terbiasa dan pernah dilakukan disana.
Mungkin karna sikap santaiku dalam melakukan setiap test itu sehingga banyak kawan2 pendaftar mendekat kepadaku dari sekedar saling bertanya hingga berbagi pengetahuan masing2 dan aku selalu menyemangati mereka semuanya, setiap aku mendengar ada yg mengeluh; "aku pasti tidak Lulus" aku akan menghiburnya agar dia yakin terhadap kemampuannya dan kepadaNya, bahkan seringkali aku bilang kepada setiap kawan2 yang mengeluh; "lebih baik aku yang tidak Lulus daripada kalian yang memang menggebu-gebu untuk cita2 profesi ini".

Dari banyaknya peserta aku dekat akrab dengan 2 orang yang memang mereka paling sering tukar pikiran dan keluh kesah kepadaku selama proses berlangsung. Sebut saja mereka alex dan udin, keadaan keduanya dari sisi kemampuan keluarga seperti Langit dan Bumi menurutku. Si Alex berasal dari keluarga pengusaha yang berkemampuan lebih tetepi selalu merasa tidak percaya diri karna fisiknya yang pendek,
sedang Si Udin berasal dari keluarga kecil dan juga seorang anak yatim, keadaan itu menuntutnya harus bisa jadi kebanggaan sebagai tulang punggung keluarganya. Dari keduanya aku tidak membedakan dalam berbagi ilmu pengetahuan dan pergaulan sesuai status sosialnya.
Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2, untuk Alex yg selalu mengeluh posturnya yg pendek yg membuatnya merasa tidak bisa lulus karna kurang 1 cm dari ketentuan tinggi minimal, selalu aku semangatin dan kasih tau trik2 agar terlihat tinggi dan cukup saat diukur. Dan juga selalu aku becandain juga dengan berkata; "Tenang aja lex, bapakmu itu orang Kaya, aku yakin Uangnya sudah berjalan itu buat nambah tinggi posturmu, hehe". Dia pun hanya tertawa saja menanggapi becandaanku.
Kemudian Udin, beliau ini sosok yang kulihat benar2 paling menggebu-gebu agar bisa Lulus, posturnya tinggi memadai ideal walau tampak kurus menurutku. dia selalu mengajak latihan fisik olahraga hampir setiap hari kepadaku untuk melihat kemampuannya, padahal aku males bener untuk hal tersebut.
Namun dalam semangatnya tetap dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya tidak Lulus karna tidak punya koneksi keluarga tentara sama sekali dan kalaupun ada, dia tidak punya uang sama sekali kalau dimintai untuk bantu Kelulusannya karna keluarganya pas2an saja.
Saat itu beliau bertemu ayahku dirumah dan dinasehati "Din kalau kamu memang sudah niat tekad bulat siap jadi tentara maka kuatkan fisikmu yg terutama kalau mau masuk Matra Darat dan Laut dan kuatkan IQ mu kalau milih matra Udara, kalau test Samaptamu (fisik olahraga) bisa masuk 5 besar penilaian maka tidak akan ada yg berani menggesermu walau mereka bisa karna itu sudah ketentuan dalam menjaring orang2 yg terbaik dari yg mendaftar".
Berbekal nasehat itu makanya dia semangat betul untuk latihan olahraga.

Masa2 Test Penentuan akhirpun tiba, saat itu tinggal tersisa sekitar 30 an peserta lagi, setelah selesai melakukan semua test kami punya waktu beberapa hari liburan sampai waktu pengumuman.
Sebelum liburan masing2 kami bertemu lagi dan aku berkata; "Tenang aja jangan kuatir Kalian Lulus dan aku temani Test selanjutnya ke Pusat". Mereka pun meng 'aamiin'kan omonganku (mereka mengira aku sudah dapat bocoran hasil, padahal itu hanya omongan doa saja).
"Jangan lupa berdoa dan banyak meminta doa kpd anak yatim dengan sedekah untuk bersiap menghadapi test selanjutnya". aku lanjut berpesan kpd kedua kawanku itu.

Walau belum yakin aku lulus disaat menunggu hasil test aku pun sowan kepada guru2ku, rata2 dari mereka mengucapkan selamat kepadaku dan jaga bila nanti diturunkan amanahNya.
Namun mereka juga berkata; "Ikutilah prosesnya sesuai dunia mereka ya, bersabarlah walau itu berat, kalau memang itu sudah pilihanmu maka dirimu harus bisa tenang, diam dan mengikuti alur2 jalannya dunia mereka tanpa banyak melawan maka kamu Pasti Masuk dalam dunia mereka dengan aman nyaman". Begitulah pesan yang hampir sama dari Guru2ku.
Lalu dari salah satu guruku aku diberikan Air mineral sebotol yg di berikan sebuah benang jahit sehelai didalamnya (aku lupa warnanya) lalu didoakan olehnya. beliau berpesan: "air ini diminum sedikit2 sampe semua testmu selesai disana baru habiskan, mudah2an bantu buat urusanmu".

Waktu yang ditunggu tiba, dari sisa 30 orang yang sampai Seleksi akhir daerah maka 5 orang dinyatakan Lulus dan lanjut ke Seleksi Pusat. Dan alhamdulillah aku dan kedua kawanku yg akrab tadi termasuk yg lulus.
Singkat cerita kami berlima pun berangkat untuk lanjut ke seleksi pusat yang saat itu di tempatkan di daerah cimahi bandung.
Satu persatu test yg telah aku lakukan didaerah kembali diuji lagi disini, namun tetap saja aku mengikutinya dengan santai tanpa terlalu berlebihan cuma memang agak beda dikit, setiap tenaga yg harus dikeluarkan sekarang lebih extra lagi karna tempat yang dingin cuacanya beda dengan didaerahku.
Aku pun dapat info dari pengumuman disana bahwa saat itu Alokasi yg di butuhkan oleh Mabes Tentara untuk profesi ijazahku adalah Matra Darat 1 orang, Matra Laut 18 orang, Matra Udara Kosong.
Dan jumlah yg sama profesi ijazahnya denganku yang sampai diseleksi Akhir pusat dari seluruh nusantara hanya 9 orang termasuk aku.
Sungguh peluang yg besar kata kawan2 peserta lainnya, istilah mereka berkata; "beruntung kamu ko, merem aja pasti lulus lah, negara butuh profesi jurusan kuliahmu 19 orang sedang kamu yg ada cuma 9 orang saja sampai disini".
Sedang kawanku alex yg seorang sarjana Manajemen makin mengeluh karna dia lihat alokasi kebutuhan untuk jurusannya hanyalah 12 orang saja, sedang saingannya yg sama2 jurusannya ada 48 orang sampe pusat. Kawanku satunya si udin harus bersaing berebut 7 kursi dari 30 orang yg tersisa.
Lagi2 aku pun berusaha menghibur mereka dgn kata2ku sebelumnya saat didaerah; "tenang Lex, din, kalian pasti Lulus percayalah sama aku, kan waktu didaerah aku bilang lulus dan terbukti kalian lulus!!". Walau becanda setidaknya kata2 itu bisa meredam kecemasan kami disana.

Dengan Info tadi aku tidaklah berbangga hati dengan peluang yg ada, aku tetap sesuai niatku diawal daftar kalaupun memang harus jadi abdi dinegara maka aku harus masuk ke Matra darat tidak mau matra lainnya, itu tekadku saat itu dan memang ada alokasi 1 kursi disana untuk jurusan profesiku.
Tekadku tersebut aku pertahankan hingga menjadi perdebatan2 saat test dengan para penguji, salah satunya ketika giliranku test Psikologi Wawancara yg ketika itu diuji oleh 3 orang Perwira Menengah dari Matra darat, Laut dan udara. Ketika aku ditanya oleh penguji dari matra laut beliau berkata; "kamu nanti bergabung bersama kami dengan matra laut, karna kami butuh kamu dan kami tahu kampusmu dan direkturnya yg merupakan senior yg disegani diMatra Laut, ok ya?"
Lalu aku jawab: "Siap saya pilih Matra darat saja".
Mulailah perdebatan terjadi gara2 sikap ngeyelku untuk tetap memilih matra darat satu2nya pilihanku.
Perdebatan justru terjadi di penguji dari matra darat dan laut yg keduanya terkesan berusaha memasukkan aku dalam kesatuan mereka.
Bahkan matra udara yg seharusnya tidak ada alokasi untuk jurusanku tiba2 berkata: "kamu saya masukkan di matra udara saja ya".
Tetap aku jawab: "siap tetap matra darat pilihanku ". Hanya sekitar 15 menit aku selesaikan test itu dengan perdebatan diantara penguji yg kelihatannya tidak ada yg saling sepakat.
(Normalnya test wawancara itu per orangnya minimal 45 menit).
Singkat cerita dalam setiap test disana aku menjadi orang yg terkesan memaksakan kehendak sendiri dan menolak setiap tawaran bahkan melawan setiap ku lihat ada kecurangan dilapangan saat test. Seperti contoh test olahraga yang kulihat hasilnya dicurangi dengan ditambah kurangi tidak sesuai fakta kemampuan peserta, itu langsung aku labrak dgn berkata kepada penguji: "maaf pak yg saya lihat beliau2 ini tidak sampai segitu hitungannya kenapa dirubah? Jangan lakukan itu pak, mau jadi apa tentara kita kalau orangnya tidak mampu dipaksakan, lihatlah itu orang2 Tidak akan Lulus walau bekingnya kuat sekalipun". Para penguji dan peserta pun kaget karna aku kerap protes dilapangan, mereka menyangka bekingku pasti kuat makanya berani berbuat begitu, padahal ketika ada yg bertanya kepadaku; "siapa bekingmu ko?" Aku selalu menjawab dgn yakin; "Allah SWT".
Namun tetap saja mereka menganggapku bercanda.
Bahkan saat di Penentuan Akhir aku kaget karna tiba2 ikut di kelompok matra Laut yg bukan keinginanku, Dan saat ditanya oleh Perwira Laut Bintang Dua sebagai Ketua Penguji, aku tetap menjawab dengan tekadku: "Siap saya Pilih Matra Darat". Begitu terus aku ucapkan sampai beliau kesal dan memberikan hukuman olahraga kepadaku dengan push up.

Aku dan kawan2ku dari daerah disana terpisah tinggalnya jadi sudah jarang bertemu selama proses seleksi karna bedanya jadwal masing2 dari tempat mess dan kompi mereka. Maka aku pun berkenalan dengan kawan2 baru di mess ku tinggal, ada sekitar 80 orang dimessku dari berbagai macam profesi, ada dokter, perawat, akuntan dll yg semuanya lolos seleksi dari daerah masing2.
Tempat tidur kami bertingkat jadi ada 1 ranjang diatas dan 1 dibawahnya, dan aku punya kawan baru namanya Heri asal blora, beliau profesi ijazahnya adalah ekonomi akuntansi. Sama dgn kawan2ku sebelumnya setiap aku kenal orang baru pasti mereka selalu curhat yg mendalam kpdku hingga aku pun tau siapa heri dan keluarganya. Kurang lebihnya beliau berasal dari keluarga tak mampu dikampungnya dan gak nyangka bisa lulus terus sampe pusat.
Aku pun empati dan akrab dgnnya, kemana mana selama disana kami berdua, dan kalau aku jajan dilantin yg ada dikomplek militer itu pun aku yg nanggung, sebenarnya tdk boleh bawa uang dan Hp  kesana, tapi aku berhasil sembunyikan sejumlah uang dlm pakaian dalamku sehingga lolos dari penyitaan saat pertama datang ke tempat seleksi.

Ada juga orang2 sombong yg aku temui terutama dimessku dan seputar ranjangku, mereka merasa punya beking kuat dari para perwira tinggi militer, aku cuma senyum2 saja dengar cerita mreka dan tetap ku jawab; "Allah SWT" bekingku saat mereka bertanya kpdku. Aku bilang sama Heri kawanku; "kamu jangan kuatir her, kita jaga wajib kita dan kita kuatkan sunnah selama disini, Dia Maha Kuat dari beking mereka, dan aku yakin mereka itu pasti tidak Lulus her percayalah".
Heri pun jadi seperti temanku sekaligus makmumku, kami kemana2 berdua dan ibadah berjamaah saling mengingatkan.

Singkat cerita hari itu 2 hari sebelum pengumuman seleksi akhir, yg lulus akan meneruskan masuk pelatihan di Magelang dan matra2 lainnya di surabaya dan solo. Saat itu aku baru selesai mandi sore dan kembali ke mess, betapa kagetnya aku karna aku lihat Air mineral yg dibawa dari rumah dan amanah dari guruku telah habis isinya, aku pun bingung dan bertanya tanya :"pasti ada yg minum ini",
Tidak lama setelah itu masih dlm kebingunganku datanglah heri yg juga sepertinya baru mandi, dia bertanya: "kenapa ko kayak bingung gitu?".
"Ini air minumku ada yg minum sapa ya?". Tanyaku.
"Oh itu air botol di kasurmu ya, iya maaf ko aku tadi abis lari2 sebelum mandi haus dan aku lihat itu air lalu aku minum deh, cuma kug seperti ada yg nyangkut2 gitu pas diminum" kata si heri.
"Haduhh heri iya itu ada benangnya dlm airnya itu titipan dari guruku, lalu aku spontan bilang "kamu Lulus Ri, yakinlah kamu Lulus" jawabku.
Heri pun memelukku karna merasa bersalah minum tanpa izin, akhirnya aku yg tadinya dongkol pun ikhlas memaafkan dan terus bilang "selamat kamu lulus ri". Heri pun menjawab;"nggak ko kita bareng2 besok lulus". Aku hanya manggut2 saja tanpa banyak berkata.
Malamnya aku pun bermimpi (aku lupa mimpinya tapi begitu bangun aku makin kuat firasat bahwa aku harus ikhlas tidak lulus dan harus balik kampung).

Akhirnya hari penentuan itu benar2 tiba, satu2 yg tidak lulus disebut namanya dalam sebuah upacara tapi santai karna pesertanya sambil duduk dan mereka yg dipanggil berarti bersiap kembali ke kampung masing2. Dan namaku pun disebutkan, maka kawan2ku seperti heri, alex dan udin yg mendengarnya seakan tidak percaya, lalu mereka berdiri dan berlari kearahku dan memelukku, terutama heri, dia menangis sambil memelukku sambil terus memohon maaf,
Aku yg sdh kuat firasat sudah ikhlas siap dan tidak terlalu kaget dgn keputusan yg diumumkan.
Aku bilang ke alex dan udin; "aku sudah penuhi janjiku dulu didaerah ya menemani kalian sampai diseleksi pusat" mereka pun menangis.
Dan kpd heri aku berkata; "sudah her, ini sudah ketetapanNya bukan karna apa2, apalagi gara2 air kmarin, sungguh nggak, aku sudah melupakannya..aku sudah terima dan sadar diri banyak kekurangan dan memang bukan ini cita2ku".
Heri berkata: "Allah punya rencana Terbaik untukmu ko, istiqomah terus ibadahmu yakinlah ada sesuatu yg lebih besar menantimu". Tiba2 heri yg selama ini pendiam jadi makmumku kini berubah mnjadi orang yg sangat bijak dan agamis.

Dan setelah aku tahu ternyata orang2 yg sebelumnya aku pernah tunjuk dan berkata bahwa mereka tidak Lulus karna kesombongan maupun karna kecurangan mereka, itu benar2 terjadi mereka semuanya termasuk nama2 yg dipanggil tidak lulus.
Lalu dari beberapa Panitia aku dapat info bahwa aku dinyatakan tidak lulus karna tidak adanya kesepakatan dari Tim Penilai Mabes untuk penempatan sesuai tekad keinginanku yg dikatakan kepada mereka saat test yaitu hanya ingin gabung di dimatra darat dan juga dari Hasil Psikologisku mereka menilaiku orangnya tidak bisa dipaksakan untuk ikut matra laut sesuai keinginan mereka walau mereka bisa saja dipaksakan aku harus ikut masuk ke matra laut tapi berakibat tidak baik bagiku nantinya menurut mereka.

Alhamdulillah, waktu berjalan setelah kegagalanku itu, dan aku pun banyak mengambil hikmah dari pengalamanku itu, setelah aku intropeksi memang aku banyak melanggar pesan2 kebaikan salah satunya dari guru2ku dan juga niat2ku kalau sampai benar2 jadi tentara, harusnya aku bisa jalani agar terhindar dari ujian2 yg tidak perlu, namun pada akhirnya aku tetap yakin dari semua perbuatanku itu bahwa semua adalah ketetapanNya bagiku, dan hal itu yg selalu aku pegang dgn kuat sebagai pedoman Suka Dukaku...

Alhamdulillah tidak butuh lama setelahnya ternyata Allah benar2 membuka banyak pintu2 kebaikanNya yg lalu aku jalani dan tekuni sebagai profesi sampai sekarang dan hasilnya lebih mencukupi dari sebuah hasil kegagalan yang aku alami.
Kini kawanku sudah perwira menengah dan mereka kini baru keluh kesah merasakan kehidupan tentara yg benar2 penuh ujian dan tantangan atas Jerih payahnya. Kisah ini banyak mengajarkan kepadaku untuk lebih memperbaiki sebuah Niat dari setiap Usaha, Setiap prasangka dari usahanya dan juga menjaga diri dari omongan yg lebih baik karna setiap omongan itu adalah Doa baginya.

Tamat

Eko yudo heriyanto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manfaat Tebu Hitam